Buat Surat Terbuka ke Jokowi, Ruslan Buton Didakwa Buat Onar-Ujarkan Kebencian
BACA BERITA

SULTRABERITA.COM, KENDARI – Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) menggelar sidang pembacaan dakwaan atas perkaraRuslan Buton. Jaksa mendakwa Ruslan berbuat onar dan melakukanujaran kebencian.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 45A ayat (2) jo. Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,” kata Ketua Tim JPU Abdul Rauf dalam persidangan, PN Jaksel, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2020).

Baca Juga :  Catat, Mahasiswa dan Warga Bakal Dapat Uang Pulsa Rp 150.000 Per Bulan

Pasal itu didakwakan ke Ruslan Buton karena membuat surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai bersifat ujaran kebencian. Surat terbuka Ruslan Buton itu diunggah ke media sosial.

Pasal kedua yang didakwakan jaksa terkait dengan tindakan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dan dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, yang diatur di Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Pasal ketiga, yaitu pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Sedangkan pasal terakhir yaitu Pasal 15 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Baca Juga :  Sosialisasi Prokes di MTQ : Lihat Petugas Pakai Masker Atur Jarak, Pindah Langsung Buyar !

Abdul Rauf menerangkan ancaman tertinggi terdapat pada pasal 14 ayat (1), dengan ancaman 10 tahun penjara. Dia pun menegaskan dakwaan pasal terhadapRuslan Butonbersifat alternatif, bukan berlapis.

“Alternatif bukan berlapis. Kalau berlapis itu komulatif. Ancaman tertingginya di Pasal 14 ayat 1, yaitu 10 tahun. Kalau ITE 6 tahun. Kalau di Pasal 14 ayat 1 ancaman paling lamanya,” terang Abdul Rauf.

Baca Juga :  Konsel Batal Jadi Tuan Rumah, MTQ Tingkat Provinsi Digelar Virtual

Usai pembacaan dakwaan, Majelis Hakim Dedy Hemawan mengagendakan sidang kembali dilaksanakan pada Kamis (27/8). Agenda sidang selanjutnya adalah pembacaan eksepsi oleh pihak penasihat hukum terdakwa Ruslan Buton.

Dalam kasus ini,Ruslan Butonyang merupakan pecatan TNI ditangkap setelah membuat heboh dengan meminta Presiden Jokowi mundur lewat surat terbuka. Ruslan ditangkap di kediamannya di Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Kamis (28/5) waktu setempat.

Usai ditangkap, Ruslan Buton diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani proses hukum diBareskrim Polri. Adm

Sumber : detik.com