In Memoriam Alm. H Imran M.Si
BACA BERITA

Bupati Itu Nanti Pakai Garuda

Julhan Sifadi
Penulis adalah Jurnalis Senior dan Sekjen DPP JOIN

Pagi itu pusat perkantoran Andoolo sangat sepi, “serasa kota mati” demikian orang-orang kerap menyebutnya ditiap akhir pekan. Maklum, sebagai ibu kota Kabupaten Konawe Selatan yang baru saja mekar, Andoolo masih dihuni mayoritas pegawai pemerintah daerah yang hanya tinggal pada hari-hari kantor.

Mereka memilih pulang ke rumah masing-masing setiap Sabtu sore. Ke Kendari atau ke kota induknya Kabupaten Konawe. Saya yang mendapatkan penempatan tugas liputan di Andoolo kala itu memilih berdiam dalam rumah kontrakan.

Minggu pagi, menjadi waktu yang membosankan. Untuk bisa makan di hari itu, hanya ada dua alternatif. Ke pasar DU yang jaraknya sekitar 5 kilometer ditambah jalan rusak, atau berharap belas kasihan dari pemilik rumah kontrakan.

Baca Juga :  Tunda Pilkada 9 Desember 2020 : Bangsa dan Rakyat Dalam Situasi Sulit

Pukul 06.30 tiba-tiba telepon genggam saya berdering, “…….Sul, dicari Bapak,” demikian potongan suaranya. Ia adalah Ajudan yang mengawal Bupati Konawe Selatan saat itu. Nama saya yang sulit menjadikan saya memaklumkan setiap panggilan yang disematkan ke saya, termasuk panggilan “Sul” tersebut.

Dengan tergesa-gesa, saya menuju ke rumah jabatan yang jaraknya kurang dari 1 kilometer dari tempat saya tinggal. “Ada apa Bapak memanggil saya di pagi hari seperti ini…,” saya dalam hati.

Sesampai di rumah jabatan Bupati, saya menuju ruang tengah. Salah satu staf rumah tangga mengarahkan saya untuk langsung ke ruang makan. Dari jauh nampak, Pak Imran telah duduk asyik menyantap sarapan pagi.

“Sul… kau itu susah sekali di ajak ke sini. Dia tidak pengaruhi ji itu idealismemu kalau komakan satu meja dengan saya. Bupati itu nanti pake garuda, kalau begini (menunjuk baju kaos oblong yang dikenakannya) saya orang tuamu. Kalau pagi konaik saja disni makan,” kata Pak Imran.

Baca Juga :  Kebijakan Uji Coba Vaksin Virus Corona di Sultra

Saya hanya tersenyum, sembari menyantap sajian diatas meja. Tidak ada kalimat yang bisa saya keluarkan.

Dimeja tersebut kami asyik mengurusi makanan yang ada di piring masing-masing. Sajian tradisional khas daerah Konawe, sayur bening, ayam tawaoloho, dan sinonggi.

Setelah makan Pak Imran mulai bertanya kepada saya tentang kondisi warganya di Kecamatan Lalembuu, dan Kecamatan Basala. Dua kecamatan perbatasan yang baru saja saya ulas di koran tempat saya bekerja.

Saya menjelaskan sesuai informasi yang saya dapatkan, dan ia pun mengangguk-angguk. “Kita lagi usahakan jembatannya itu karena masuk jalan provinsi,…. Kotulis juga itu,” kata Pak Imran.

Baca Juga :  Tunda Pilkada 9 Desember 2020 : Bangsa dan Rakyat Dalam Situasi Sulit

Saya tersenyum dan melirik raut wajahnya sembari mengiyakan. Saya pahami bahwa itulah cara seorang Pak Imran memberikan hak jawabnya terhadap pemberitaan, setelah beberapa hari sebelumnya saya mengulas akses jembatan di dua kecamatan tersebut yang masih menggunakan batang kelapa. (***).

BACA JUGA :